Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
12 Oct 2008
BizNews
Arsip Berita
 

 

 
• 27 Dec 2005 , 10:00:28
Pengrajin Batik Pertahankan Perwarna Alami

Warna-warna tanah dan kayu merupakan ciri khas kain batik tradisional. Meski pewarna kain kimiawi dengan beragam warna secara mudah dan murah dipasaran akan tetapi para pengrajin batik tradisional tetap mempertahankan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Batik berperwarna alami ternyata memiliki pasar tersendiri, masih diminati konsumen.

Slamet seorang pengrajin batik saat ditemui di showroom-nya Los 4 No 1 Pasar Seni Gabusan menuturkan, proses pembuatan pewarna alami memakan waktu dan tenaga, belum lagi proses menuangkan warna di atas kain sehingga harga tiap kain bisa mencapai ratusan ribu. Lain halnya batik dengan pewarna kimiawi yang dihargai puluhan ribu saja. "Biasanya konsumen kami memesan batik tradisional untuk keperluan acara pernikahan dan acara resmi lainnya", kata pria yang berdomisi di Pajimatan Girirejo Imogiri Bantul ini.

Beberapa waktu lalu kedatangan tamu dari Kanada, mereka mengamati proses pembuatan batik secara tradisional. "Warna-warna tanah dan kayu yang cenderung mblawus disukai mereka", kata pemilik Tyas Batik ini.

Mengenai bahan-bahan perwana batiknya, Slamet menjelaskan bahwa bahan dasarnya diambil dari dedaunan, batang kayu, dan buah dari lingkungan desanya. "Ragam warna dari bahan alami tidak banyak, kami hanya bisa membuat beberapa macam saja hitam, coklat, kuning dan kami bisa memproduksi rata-rata 13 lembar kain batik tiap bulannya", kata pengrajin yang mengaku mendapat keterampilan membatik secara turun-temurun dari orang-tuanya.

Sementara, pengrajin batik lainnya Hendri Suprapto menuturkan bahwa bahan pewarna alami tanpa menggunakan zat kimia pabrik diminati konsumen mancanegara karena ramah lingkungan. "Produk batik tradisional kami telah menembus mancanegara antara lain Jepang, Kanada, Amerika, dan Korea Selatan", kata pemilik perusahaan "Batik Bixa" di workshop-nya yang berlokasi di dusun Ngentak Pelem Baturetno Bangutapan.

Lebih lanjut, Hendri Suprapto menuturkan, berdasarkan risetnya di Balai Besar Kerajinan Batik Yogyakarta berbagai jenis tumbuhan dapat menghasilkan beragam warna. Batik produksi Hendri Suprapto berbeda dibandingkan dengan batik wijirejo maupun Imogiri. Hedri menggunakan kain sutra sebagai bahan dasarnya dan memiliki beragam warna untuk motifnya. Untuk mendapatkan warna khusus, Hendri harus mencari bahan baku hingga dari Sumatra dan Kalimantan.

Hendri Suprapto menuturkan bahwa perusahaan batik didirikan untuk memenuhi permintaan pasar batik yang menggunakan pewama alami. "Penggunaan pewarna alami dapat menghindari resiko terjangkit penyakit kanker yang disebabkan oleh gugus azo dari zat warna kimia", kata Hendri Suprapto.


 
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.16 sec.
>> WebStats