|
• 03 Apr 2006 , 11:50:15 Workshop dan Wisata Batik Bantulan Sebagai Wujud Pelestarian Seni BatikHj Ida Idham Samawi selaku Ketua Dekranas Kabupaten Bantul menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas diselenggarakannya Workshop dan Wisata Batik Bantulan oleh SMK N 3 Kasihan Bantul, sebagai wujud peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, pelestarian budaya membatik serta menumbuhkembangkan rasa bangga bangga akan produksi dalam negeri khususnya produksi Batik Bantulan (batik dengan motif corak Bantul) yang muaranya demi peningkatan kesejahteraan masyarakat Bantul.
Demikian antara lain sambutan Hj Ida Idham Samawi pada acara pembukaan Workshop dan Wisata Batik Bantulan di SMK N 3 Kasihan Bantul atau yang lebih dahulu dikenal sebagai SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Yogyakarta, Rabu (29/3). “Himbauan Bapak Bupati Bantul kepada PNS Pemkab Bantul untuk mengenakan batik produk lokal/Batik Bantul pada hari Jumat dan Sabtu terbukti dapat menaikkan omzet penjualan Batik Bantul yang beberapa waktu lalu mengalami kelesuan”, tambah Ibu Idham.
Sementara itu Ketua Panitia Ir. Retno Widiastuti MM mengatakan bahwa dipilihnya Workshop dan Wisata Batik Bantulan karena batik merupakan produk/komoditi industri yang mempunyai nilai seni tinggi dan menjadi andalan Kabupaten Bantul pada khususnya dan Yogyakarta pada umumnya.
Sebelum acara pokok workshop yaitu praktek membatik dengan canting, peserta dibekali dengan materi dari dua nara sumber yakni Ir. Ny. TT. Soerjanto Kurator Galeri Batik Kuno Danar Hadi tentang Filosofi Batik dalam Upacara Adat Perkawinan Jawa dan Dra. Dwi Hening Jayanti guru SMK N 3 Kasihan yang juga pemerhati batik tentang Proses Pembuatan Batik. Selain itu juga ditampilkan peragaan busana dari Rumah Mode Anisa dengan tambahan peragawati dari Ibu-ibu Dharma Wanita SMK N 3. Sedangkan Wisata Batik Bantulan dilaksanakan pada hari berikutnya, Kamis (30/3).
Dalam pelaksanaannya ternyata antusiasme peserta workshop cukup tinggi, salah satunya Sri Sarbini guru SMP 1 Pleret mengusulkan workshop ini ada tindaklanjutnya misalnya dengan mengadakan lomba membatik tingkat SMP. Di luar dugaan pula, peserta workshop melampaui target, dari target awal 50 peserta akhirnya diikuti oleh 86 peserta termasuk Karen satu-satunya peserta asing berasal dari Amerika. Lain lagi dengan Saiful Hamdi dari TICI (The Inter Cultural Institute) salah satu lembaga yang bergerak dalam bidang tourisme, pria asli lombok ini mengatakan, “Saya terkesan sekali dengan workshop ini, acaranya menarik sekali dan untuk pertama kalinya saya belajar membatik serta bisa mengenal lebih dalam lagi tentang sejarah dan perkembangan batik”.
Menurut sebagian besar peserta yang berasal dari lingkup pendidikan, rata-rata mereka akan menularkan pengetahuan yang didapat selama mengikuti workshop kepada anak didiknya. Seperti penuturan Dra. Suwanti Kepala SDN Gunung Mulyo Sedayu, keikutsertaannya pada workshop kali ini akan ditindaklanjuti di sekolahnya dengan menambahkan pelajaran membatik canting pada mata pelajaran KTK untuk kelas 4 dan 5 pada tahun ajaran mendatang, sementara yang sudah diberikan baru sebatas membatik jumputan.
Acara workshop kemudian diakhiri dengan pemberian penghargaan bagi 5 karya terbaik peserta dengan kriteria penguasaan teknik canting, masing-masing Endi Hartono dari Biro Kerjasama Propinsi DIY, Siti Nurrohmah dari IKIP Semarang (Mahasiswa S2 ISI Yogyakarta), Hasdiana dari IKIP Gorontalo (Mahasiswa S2 ISI Yk), Fifi Cahya dari IKAISYO dan Ros Kasman dari Dharma Wanita FSR ISI Yogyakarta.
|