|
• 16 Jan 2007 , 11:08:44 Malam 1 Suro di Pantai Samas Peringati Tumuruning Mahesa Suro dan Bhekti JalanidhiMenyambut datangnya malam tahun baru tanggal 1 Suro 1940 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 1928 H atau hari Jumat malam sabtu ( 19/1 ), masyarakat desa Srigading, Sanden akan menyelenggarakan upacara tradisional Tumuruning Mahesa Suro tepat pada pergantian tahun yang prosesinya diawali pada pukul 20.00 WIB dan upacara labuhan nelayan Bhekti Jalanidhi yang dilaksanakan hari Minggu tangggal 21 Januari 2006 mulai pukul 09.00 WIB berpusat di pantai Samas.
Menurut Ka Sub Din Pemasaran dan Penyuluhan Wisata Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul melalui Kakan Humas dan Informasi Kabupaten Bantul Sunarto, SH MM maksud dan tujuan upacara tradisional tersebut antara lain untuk melestarikan budaya luhur, perwuwujudan rasa syukur kepada Tuhan YME atas rejeki yang diterima dan permohonan doa agar hasil bumi agar tahun akan datang lebih baik serta dapat meningkatkan kepariwisataan di pantai Samas.
Prosesi upacara tradisional tersebut menurut rencana akan dimulai dari rumah sesepuh desa setempat dengan mengarak uba rampe sebagai sesaji upacar seperti dua buah gunun gan terdiri dari hasil bumi, asir suci dengan bunga setaman serta jajan pasar oleh warga yang sebagian bersar sebagai petani serta nelayan dengan mengenakan pakaian adat Jawa.
Kakan Humas dan Informasi Sunarto, SH MM menambahkan bahwa upacara tradional tersebut berawal dari sejarah penghidupan warga Samas pada khususnya yang pada waktu itu kehidupannya masih amat sulit dengan mengandalkan pembuatan garam, mencari ikan dan kayu bakar sehingga tempat tinggalnya tidak layak huni serta mudah terserang penyakit.
Melihat kondisi itu sesepuh dusun setempat seperti Eyang Bekel Sepuh Nitirejo, Bekel Sepuh Jopawiro dan Bekel Mangunrejo kemudian melakukan permohoan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan cara lelaku bertepatan maklam tanggal 1 Suro, agar warag Samas diampuni segala kesalahan serta diridhoi dalam mencapai kehidupan lebih baik.
Isyarat dikabulkannya permohonan doa itu kemudian muncul seekor kerbau jantan besar dari Laut Selatan yang kemudian digiring ke darat kemudian disediakan makanan untuk kerbau itu antara lain berupa pisang, cambuk dan tali untuk mengikat dalam pemeliharaan agar tidak lari. Karena datangnya kerbau jantan itu bertepatan dengan malam tanggal 1 Suro, maka warga Samas menyebutnya sebagai Mahesa Suro yang kemudian diperingati setiap tahunnya.
|