|
• 27 Feb 2007 , 14:48:34 Bantul Budidayakan Jarak Pagar untuk Bio-FuelPetani di Bantul mulai membudidayakan tanaman Jarak Pagar sebagai bahan bio-fuel (bahan bakar nabati). Pada akhir tahun 2006 yang lalu mulai ditanam di atas lahan seluas 34 hektar di Desa Bangunjiwo, Kasihan dan 25 hektar di Desa Poncosari, Srandakan.
Menurut keterangan Kasie Perkebunan Dinas Petanian dan Kehutanan Pemkab Bantul Andar Arwiyati, STP, budidaya Jarak Pagar tersebut masih dalam tahap awal, pada tahun pertama ini dilakukan proses pangkas bentuk untuk menghasilkan produksi yang diinginkan. "Diharapkan pada tahun kedua para petani mulai memetik hasilnya," ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa (27/2).
Budidaya Jarak Pagar ini sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden RI No.1 Tahun 2006 tentang Bahan Bakar Nabati. "Bahan bakar nabati diharapkan akan menggantikan dan menekan penggunaan minyak bumi". ujar Andar Arwiyati.
Ada beberapa tananaman yang bisa digunakan sebagai bahan bio-fuel, seperti tebu, jagung, dan ketela yang mampu menghasilkan bahan bakar sekelas premium. Sedangkan minyak buah jarak sebagai pengganti minyak tanah dan solar.
Di negara maju seperti Perancis, bio-fuel telah dimanfaatkan sebagai campuran (blend) bahan bakar minyak bumi, dengan kadar sekitar 5%. Indonesia sendiri, PTPN 12 telah mampu menciptkan mesin berbahan bakar 100% bio-fuel.
Dijelaskan, tanaman Jarak berasal dari Brazil dan di Indonesia pada saat pendudukan Jepang telah digunakan sebagai bahan bakar. Jaman dahulu tumbuhan ini ditanam untuk pagar batas tanah. Oleh sebab itu, masyarakat sering menyebutnya Jarak Pagar.
Andar Arwiyati menerangkan, Jarak Pagar merupakan tanaman tahunan mampu berbuah setiap 6 bulan dan disarankan ditanam di lahan kritis. Dengan perawatan yang baik tanaman ini memiliki usia produktif antara 20 hingga 30 tahun. "Dipertahut Bantul mewajibkan kepada para petani untuk menanam tumbuhan ini di lahan yang tidak produktif bukan lahan tanaman pangan produktif atau sebagai perindang jalan," tegasnya.
Mengenai pengembangan Jarak Pagar di Bantul, Andar Arwiyati menjelaskan, petani akan didampingi melalui program Pengolahan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HBun). Tahun 2007 ini akan dibantu penggadaan alat pres sederhana untuk mengolah buah jarak. Petani Jarak ditargetkan mampu menghasilkan Crude Jratopha Curcas (CJC) atau minyak kasar jarak. CJC ini selanjutnya akan diolah menjadi bio-fuel oleh perusahaan besar.
Sedangkan bibit jarak yang ditanam di wilayah Bantul diambil dari pusat pembenihan di Pati Jawa Tengah. Puslitbang Perkebunan Bogor membuat 3 lokasi pembenihan jarak yakni di Sukabumi untuk benih lahan basah, Pati Jawa Tengah untuk lahan sedang dan Asembagus, Jawa Timur yang menghasilkan benih untuk lahan kering.
Dalam tahap awal ini, para petani jarak di Bantul diberi subsidi dari biji hingga perawatan dalam satu tahun. Untuk pemasarannya, para petani di Bantul dapat menyalurkan melalui Koperasi Tri Arunsari untuk wilayah barat dan Koperasi Nyiur Melambai untuk wilayah barat. Untuk saat ini satu kilogram buah jarak kering dihargai Rp 500,-. Selain sebagai sumber penghasilan petani, minyak jarak kasar bisa dimanfaat sendiri sebagai bahan bakar kompor atau lampu minyak.
|