|
• 18 May 2004 , 07:10:41 Supriyadi – Petani Pohon Jati Sambil Berinvestasi, Garap Juga Usaha Lain Merombak total puluhan tanaman pohon kelapa memang sempat mengejutkan tetangganya, di dusun Santan, Guwosari, Pajangan Bantul. Tapi Supriyadi tak ambil pusing. Berbekal pemikiran masa depan yang mesti disiapkan, keuletan kerja dan ketrampilan yang dimilikinya, mulailah bapak 3 anak yang masih kecil-kecil ini banting stir.
Tanah seluas hampir 4.000 meter persegi merombak tanah pekarangannya jadi areal perkebunan pohon jati. Ada 700 pohon ditanamnya. Dia sadar betul, menanam pohon jati berarti siap menunggu panen paling cepat 10 tahun. “Saya memang sudah siap. Karena panenan pohon jati kelak saya persiapkan untuk biaya sekolah anak-anak saya,” katanya dengan penuh keyakinan.
Dari jumlah pohon yang ditanamnya, usianya bervariasi. Sebanyak 300 batang sudah berumur 1 tahun, sejumlah 150 batang berumur 8 bulan, 150 batang 6 bulan dan yang berumur 2 bulan ada 100 batang. Dana yang tersedot untuk proyek jangka panjang ini mencapai puluhan juta rupiah. Dia berharap, panen perdana dapat dinikmati 7 tahun ke depan.
Pohon jati yang ditanam jenisnya beragam. Ada yang diambil dari hasil budidaya Fakultas Pertanian UMY, diambil dari Cepu, Blora maupun hasil budidaya lokal Guwosari sendiri.
Beberapa waktu lalu, kerja keras dan keuletan Supriyadi telah mengundang perhatian Bupati Bantul. Drs HM Idham Samawi dan rombongan telah meninjau program jatinisasi Priyadi. Bupati menyatakan salut atas kerja keras lelaki umur 34 tahun ini.
Tak ayal, kebun jati Priyadi kini menjadi tujuan sejumlah mahasiswa berbagai perguruan tinggi, instansi dan perorangan yang ingin menimba ilmu dan ketrampilan dari Priyadi.
Lantas, untuk hidup sehari-hari? Priyadi yang memang ulet itu tak menyia-nyiakan peluang. Kini, orang modern gemar makanan camilan. Tapi camilan yang digarap Priyadi tidak sembarang makanan ringan. Wader! Ya, ikan kecil-kecil yang hidup di air tawar itu dijualnya.
Dia mengaku tidak menggoreng sendiri, karena terlalu merepotkan. Dia beli yang sudah digoreng dari Kulonprogo. Dia hanya mengemasnya ke dalam toples plastik dan memberinya lebel Wader kering produksi Priyadi. Sah-sah saja, karena memang Priyadi lah yang melakukan terobosan ini. Jumlahnya lumayan banyak, satu bulan mencapai 1 ton. Dia proaktif. Didatanginya suparmarket, mall, toko-toko besar kecil di kota Yogya, Klaten dan Solo. Kini jumlah outlet sudah mencapai hampir 80 tempat.
Keuntungan yang diraupnya dari bisnis jangka pendek ini lumayan besar, hingga mencapai lebih dari Rp 5 juta keuntungan bersih per bulannya.
Selamat buat Pak Priyadi, petani yang berpikir masa depan dan menggeluti pula bisnis jangka pendek untuk hidup sehari-hari.
|