Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
11 Oct 2008
BizNews
Arsip Berita
 

 

 
• 24 May 2004 , 18:00:27
BATIK ENCENG GONDOK, LANGKA DAN UNIK

Berbicara masalah batik, Yogyakarta memang gudangnya. Banyak sentra kerajinan batik yang tersebar di kota yang sarat predikat ini. Di Kabupaten Bantul saja masih banyak kita temukan pembatik-pembatik yang sudah berusia lanjut. Mereka statusnya bisa sebagai buruh / tenaga kerja atau juga sebagai pemilik kerajinan. Sayangnya mereka hanya terpaku pada suatu pakem, atau tidak berani membuat suatu inovasi.Bagi Supriyatno (42) yang sudah sekitar dua dasa warsa menggeluti dunia batik, media untuk membatik tidak harus dari bahan kain. Dengan media kayu pun sekarang juga sudah banyak diproduksi oleh para perajin. Dengan media enceng gondok? Nah ini baru langka dan unik. Media inilah yang sekarang terus dikembangkan oleh perajin batik yang beralamat di Krapyak Wetan 161 A, RT 8 RW 55 Panggungharjo Sewon Bantul, 55188, telp. 0274-380181, fax. 0274-373507 ini.

Supriyatno sedang melakukan
proses pemalaman

Kecintaannya pada batik menurut bapak yang kini berputra 3 ini sudah sejak SMP. “Waktu itu setiap ada ekstra mbatik di sekolah, oleh guru pembimbing, karya saya selalu dinilai paling baik dibanding teman yang lain”, kenangnya. Sanjungan itu membuat dia merasa bangga tapi tidak besar kepala. Setelah beranjak remaja dan dewasa dia juga banyak bergaul dengan para perajin batik di Tamansari Yogyakarta. Hal ini semakin membuat talentanya semakin terasah. Selanjutnya secara resmi pada tahun 1983 alumni ISI Yogyakarta ini mendirikan galeri dengan nama “Batik Painting Soepry Gallery”. Pada awal produksinya bahkan sampai sekarang dia masih menggunakan kain untuk media batiknya. Tetapi di tahun 2000, Soepri menemukan enceng gondok sebagai media untuk membatiknya. Sebelumnya, Soepri banyak melakukan eksperimen, untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Termasuk dia juga banyak berkonsultasi dengan Balai Batik Yogyakarta, yang memberikan solusi tentang teknik pewarnaannya.

Untuk memperkenalkan hasil temuannya, tahun 2002 ikut pameran Inacraft, Icraft dan Furnicraft di Jakarta dengan 3 temannya. Tahun 2003 pameran di Belanda dengan membawa sekitar 50 karya. Di event tersebut karyanya terhitung laris manis karena hanya tinggal 2 karya. Menurut suami Emiyati ini, waktu itu 1 karya harganya rata-rata Rp 2,5 juta dalam berbagai ukuran. Di tahun yang sama pameran selanjutnya yaitu di Malaysia dan Singapura. Di sini antusias masyarakatnya juga sangat bagus. Buyers dari Hongkong juga sudah rutin 2 bulan sekali minta dikirimi produknya. “Jerman sudah merespon bagus, tinggal menunggu tindak lanjutnya”, katanya bangga. Hingga sekarang pasar lokal yang sudah jadi yaitu Jakarta, Yogyakarta dan Bali. Khusus ke Bali, dalam 1 bulan dia bisa kirim 2 kali sebanyak 80 lukisan batiknya. Karena pasaran yang paling bagus selama ini di Bali, maka tema-tema yang diangkat pun juga seputar Bali. Sudah ada sekitar 50 disain motif yang bernuansa Bali. Seperti “Dua Gadis Bali”, “Gadis Pembawa Buah”, “Penari Bali” dan sebagainya. Harga untuk pasaran lokal antara Rp 50.000 – Rp 300.000. Untuk harga retail dan pameran juga ada sendiri.

Menurut pengakuannya, perajin batik lainnya belum ada yang memakai enceng gondok sebagai media berekspresi. Hal inilah yang menjadikan batiknya termasuk langka. Di samping itu juga ada yang unik yaitu prosesnya termasuk berbeda dengan media kain, lebih lama dan rumit. Bagi Soepri yang suka bereksperimen, hal itu itu justru mengasikkan.Tetapi bila sudah jadi karya, hasil yang didapatkan sungguh artistik dan warna naturalnya sangat kuat. Warna enceng gondok yang sudah ditenun dan sudah siap dibatik cenderung putih, kuning dan kecoklatan. Bila warna soga mendominasi gambarnya, maka yang nampak adalah warna natural. Setelah proses batik selesai, maka sebagai finishing terakhir yaitu dijahit pada bagian tepi secara keseluruhan dengan kain blaco dan diberi aksentuasi-aksentuasi memakai batok yang dibuat sedemikian rupa sehingga menambah cantiknya penampilan batik enceng gondok. Untuk memajangnya sudah ada kayu yang untuk membentangkannya, yaitu dikaitkan pada tepi bawah dan atas. Setelah itu batik lukis enceng gondok sudah siap ditempelkan di dinding.

 
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.72 sec.
>> WebStats