|
• 29 May 2004 , 13:50:36 Selama Musim Liburan, Wisatawan Disuguhi Berbagai Atraksi Budaya Selama musim liburan sekolah yaitu bulan Juni-Juli wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Bantul akan disuguhi berbagai atraksi wisata budaya. Bantul terkenal memiliki potensi wisata terutama wisata budaya yang adiluhung dan terus dilestarikan. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kebesaran budaya adiluhung Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang masih melekat kuat di masyarakat.
Dalam jumpa pers yang diselenggarakan di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Sabtu (29/05), dipaparkan berbagai acara seni budaya yang akan digelar di Bantul selama bulan Juni dan Juli 2004. Hadir dalam kesempatan ini Pejabat Dinas Pariwisata serta wartawan dari media cetak dan elektronik baik media lokal Yogyakarta maupun Nasional.
Setiap wilayah di Bantul terdapat tradisi yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi yakni upacara ritual tradisional sebagai sarana mengungkapkan rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan YME, yang sering dikenal dengan upacara Merti Dusun, Labuhan / Larungan, dan sebagainya.
Atraksi wisata budaya yang akan digelar yaitu pada tanggal 1 Juni Upacara Pisungsung Jaladri di Parangtritis. Selanjutnya Tanggal 2 Juni diselenggarakan Merti Dusun Dodogan Jatimulyo Kecamatan Dlingo. Sementara masyarakat Ngentak Poncosari Srandakan pada tanggal 1-2 Juni menggelar Upacara Merti Dusun.
Tidak ketinggalan masyarakat keturunan Tionghoa tanggal 22 Juni akan melangsungkan ritual Peh Cun di Cepuri Parangtritis. Peh Cun dirayakan setahun sekali setiap tanggal 5 bulan 5 menurut kalender China (Imlek). Upacara ini akan diwarnai dengan atraksi Liong dan Barongsay.
Selanjutnya pada bulan Juli akan diselenggarakan Pesta Rakyat Kedungmiri di Sriharjo Imogiri, Merti Dusun di Krebet Pajangan, selanjutnya di Sitimulyo Piyungan akan dilangsungkan upacara Jodangan Jolosutro. Bulan Juli merupakan bulan yang istimewa bagi Kabupaten Bantul tanggal 20 Juli 2004 bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Bantul ke-173, akan dilangsungkan berbagai kegiatan upacara tradisional dan berbagai hiburan rakyat.
Dra Anniyahya, Ka Bag Informasi Dinas Pariwisata Kab Bantul menuturkan, dibandingkan dengan acara seperti tahun baru ataupun satu suro memang acara ritual ini tidak terlalu banyak memberi income bagi pendapatan asli daerah. Namun sebagai aset budaya yang adiluhung Dinas Pariwisata tetap mendukung warga untuk melestarikan dan menggelar acara-acara ritual serta menyebarluaskan informasi tentang acara ini melalui berbagai media massa.(biz)
|