Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
24 Oct 2014
BizNews
Arsip Berita
 

 

 
20 Jan 2014 , 13:51:22
Membuat Shuttlecock Juga Membutuhkan Wawasan Yang Luas

Memproduksi shuttlecock ternyata tidak hanya membutuhkan ketrampilan, tapi juga wawasan tentang jenis bulu yang baik untuk produk tersebut. Yang terbaik ternyata adalah shuttlecock yang terbuat dari bulu angsa dan bebek. Itupun bulu pada sisi kiri sayap ternak tersebut. Walaupun tidak biasa terbang tinggi, namun bulu angsa dan bebek ternyata sangat kuat dan stabil. Selain kedua jenis hewan tersebut, bulu shuttlecock pada level di bawahnya, juga dapat dibuat dari bulu ayam potong (broiler) jantan. Itupun harus dari ayam di atas bobot 2 kg.


Selain standar bulu, membuat shuttlecock juga harus paham tentang standar jumlah bulu, berat dan diameter kepala. Standar jumlah bulu adalah 16 bulu dengan berat 4,74 5,50 gram, sedangkan diameter kepalanya 25-28 mm. Tidak semua perajin shuttlecock memahami hal ini. Demikian juga dengan apa yang dipahami Markini, walaupun pernah 10 tahun menjadi pekerja pada kerajinan shuttlecock. Hal ini sedikitnya terungkap saat diwawancarai di rumahnya kampung Manggung dusun Kowen II Rt. 04/25, Timbulharjo, Sewon, Bantul, pada Jumat (17/01), standar yang dipahami hanya jumlah 16 bulu.


Apa yang diproduksi Markini dengan label Sinar Alam Shuttlecock yang menggunakan bulu ayam potong, cukup baik untuk laga tingkat lokal maupun bagi mereka yang amatir. Kepala shuttlecock atau sering disebut dop, menggunakan bahan yang terbuat dari gabus dengan harga Rp. 3.500, jadi termasuk baik. Sedangkan untuk diameter ujung shuttlecock, ia juga menggunakan alat press yang sudah standar, demikian juga dengan lem cock dan benang pengait. Dalam keterbatasannya, isteri Ali Budoyo ini berupaya keras agar produknya dapat memenuhi standard an disukai konsumen.

Jenis produk yang dihasilkan Markini dan suaminya adalah shuttlecock datar (papak) dan lancip. Masing-masing ada yang kw1 maupun kw2. Namun menurut Markini yang paling sering diminati adalah yang jenis datar kw1. Harga jual per slop untuk yang ujung datar kw1 Rp. 38 rb dan kw2 Rp. 35 rb. Sedangkan yang jenis lancip, kw1 dijual Rp. 20 rb dan kw2 Rp. 16 rb. Sementara ini pangsa pasar shuttlecock Sinar Alam baru dalam wilayah Bantul dan Magelang. Dari Magelang secara rutin setiap bulan sekali memesan jenis lancip kw1, 50 slop.

Ke depannya Markini dan suaminya akan berusaha untuk dapat melempar produknya ke seluruh wilayah DIY. Kami berharap juga kata Markini untuk bias menjangkau kota-kota di sekitar DIY seperti Purworejo, Kutoarjo, Muntilan dan Klaten. Pesanan luar kota kami sanggup untuk mengirimkan dengan biaya kirim ditanggung pembeli dengan cara transfer bank. Mereka yang berminta dengan produk Sinar Alam Shuttlecock, dapat menghubungi langsung yang bersangkutan melalui hp. 0877 3940 9455, 0818 0786 1729 atau 0878 4572 3445. ( Fernandez )

 
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.01 sec.
>> WebStats