|
• 10 Feb 2005 , 15:37:10 Isu Badai Tropis Memukul Dunia Pariwisata Ramalan badai tropis di kawasan pantai selatan DIY yang tersiar belakangan ini, cukup memukul dunia kepariwisataan di Kabupaten Bantul, khususnya obyek wisata Pantai Parangtritis yang menjadi andalan pemasukan bagi PAD Kabupaten Bantul. Sejak tersiarnya ramalan badai tropis seakan dijauhi para pelancong.
Bertepatan malam satu Suro kalender jawa atau Rabu (9/2) malam, tahun-tahun sebelumnya Kawasan Parangtritis dipadati wisatawan baik yang sekedar menikmati angin pantai maupun menjalani “laku bathin” menyambut datangnya tahun baru jawa. Namun, malam itu jalanan tampak lenggang, begitu juga warung-warung makan kosong melompong. Hanya sedikit keramain di sekitar Pendopo Parangkusomo, pengunjung menyimak pertunjukan dalang Ki Udreko yang menggelar wayang kulit dengan lakon “Janjangan Karno”.
Sementara itu, di pintu masuk kawasan Parangtritis, petugas pemungut retribusi tampak tak terlalu disibukkan melayani karcis untuk pengunjung. Akan tetapi, sangat menurunnya pengunjung kawasan Parangtritis pada malam satu suro ini, menjadi keprihatinan tersendiri bagi Imam Santoso Koordinator TPR Obyek Wisata Parangtritis. “Kami cukup prihatin dengan sepinya pengunjung malam ini, mungkin bukan keprihatinan kami saja tetapi juga bagi Pemkab Bantul,” katanya.
Malam satu suro menjadi salah satu sumber pemasukan retribusi cukup besar, dengan demikian sepinya pengunjung Parangtritis otomatis pemasukan bagi PAD Kabupaten Bantul menurun. “Bagaimana lagi, dengan adanya himbauan Pemprop DIY untuk menjauhi kawasan pantai dari tanggal 5-10 Februari secara langsung mempengaruhi masyarakat untuk tidak berwisata di pantai”, kata Imam Santoso.
Imam Santoso juga mengatakan bahwa menurunnya pengunjung Parangtritis terjadi sejak bencana Tsunami yang melanda Aceh akhir Desember tahun lalu, masyarakat masih dihantui bencana tersebut sehingga pantai tidak menjadi tujuan wisatanya. “Pada malam tahun baru yang lalu, minat masyarakat berwisata di Parangtritis sudah mulai menurun, namun pada malam satu suro ini lebih sepi dari perayaan tahun baru 2005 yang lalu,” katanya.
Paling tidak dibutuhkan waktu 6 bulan lagi untuk mengembalikan arus wisatawan ke Parangtritis seperti semula, tentu saja dengan upaya-upaya dari Dinas Pariwisata dan dinas/instansi terkait untuk meyakinkan masyarakat.
Sedangkan Agus salah seorang staf TPR mengatakan, sejak bertugas dari pukul 16.00 WIB hingga pukul 23.30 WIB baru menghabiskan 11 buku karcis bila dirupiahkan hanya sekitar Rp 2 Juta. “Biasanya malam satu suro bisa menghasilkan lebih dari Rp 80 Juta,” kata Agus.
|