Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
12 Oct 2008
BizNews
Arsip Berita
 

 

 
• 11 Mar 2005 , 14:30:24
Pengunjung Mulai Normal,
Prosesi Pembakaran Ogoh-ogoh Warnai Parangkusumo

Kawasan Pantai Parangkusumo terkenal menjadi langganan penyelenggaraan berbagai ritual budaya. Oleh masyarakat Jawa, Parangkusumo dianggap tempat yang keramat karena dipercaya sebagai tempat bertemunya Raja-Raja Mataram dengan Nyi Roro Kidul penguasa Laut Selatan. Sehingga dianggap sebagai tempat yang ideal untuk mengelar acara ritual budaya.


Seperti yang dilakukan Paguyuban Tri Tunggal Yogyakarta, Kamis (10/3), sebagai ungkapan turut mangayubagyo terhadap Umat Hindhu yang memperingati Hari Raya Nyepi esok harinya, paguyuban ini menggelar ritual pembakaran Ogoh-ogoh (patung raksasa). Pembakaran Ogoh-ogoh merupakan salah satu ritual dalam UpacaraTawur Kasanga yang diselenggarakan Umat Hindhu sehari sebelum Hari Raya Nyepi.


Menurut Sat Guru Paguyuban Tri Tunggal Dr Sapto Raharjo SIP saat ditemui di lokasi, ritual budaya ini tidak hanya melibatkan penganut Hindhu namun juga masyarakat Kejawen dan terbuka untuk umum. Ritual budaya sore hingga malam ini memadukan unsur budaya Jawa, Hindhu, dan berbagai suku di Nusantara. "Makna ritual ini yakni menyucikan diri dari sifat-sifat negatif manusia", kata Sapto.

Ritual budaya ini diawali iring-iringan sepasang gunungan, gunungan lanang (pria) yang berisi buah-buahan setinggi 2 meter dan gunungan wadon (wanita) setinggi 1,5 meter berisi buah-buahan dan bumbu dapur. Diikuti usungan Ogoh-ogoh dan para peserta yang berbusana Jawa, Bali, Dayak Kalimatan, dan Toraja Sulawesi.

Menjelang mata hari terbenam diufuk barat, anggota panguyuban mulai membakar dupa dan kemenyan sebagai salah satu sarana upacara. Terdengar alunan gamelan yang ditabuh, dengan menggunakan bahasa Jawa, Sat Guru memimpin pembacaan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selanjutnya digelar tarian tradisional dari Suku Toraja Sulawesi diteruskan tarian Suku Dayak Kalimantan. Usai sajian tari-tarian, sebagai salah satu simbolisasi penyucian diri menurut Paguyuban Tri Tunggal, dilaksanakan ritual pemotongan rambut anggota paguyuban oleh Sat Guru. Tidak hanya anggota paguyuban, ritual pemotongan rambut ini juga diikuti beberapa masyarakat yang hadir sejak sore.

Puncak ritual budaya malam itu yakni pembakaran Ogoh-ogoh, patung raksasa yang merupakan simbolisasi sifat angkara murka, keserakahan, amarah dan sifat-sifat negatif lainnya. Sebelum Ogoh-ogoh dibakar, digelar tarian kolosal bertajuk Perang Kembang atau perang terhadap hawa nafsu. Dengan menampilkan para penari dari Paguyuban dan SMKI.

Sebuah anak panah api yang dilesatkan Sapto Raharjo, Ogoh-ogoh mulai terbakar, diiringi teriakan dan gerakan spontan para penari. Kencangnya angin laut malam itu membuat Ogoh-ogoh terbakar dengan cepat hingga tinggal kerangka kayu yang masih membara. Ritual budaya diakhiri dengan rayahan sepasang gunungan dan labuhan sisa-sisa Ogoh-ogoh.

Pengunjung Mulai Normal

Setelah diterpa isu badai serta trauma masyarakat terhadap tsunami, pengunjung Parangkusumo normal kembali. Beberapa acara yang digelar di Parangkusumo beberapa waktu terakhir tampak dipadati pengunjung.

Diutarakan oleh Suroyo anggota SAR yang turut memantau acara malam itu, bulan Suro ini banyak digelar berbagai acara seperti Upacara Melasti, Labuhan, Wayangan dan juga acara malam ini selalu padat pengunjung. "Namun pengunjung Pantai Parangtritis tampaknya belum ramai, sehingga intensitas tugas pengawasan SAR belum tinggi," tambahnya.

Sementara, Yudi pengunjung dari Kota Yogyakarta didampingi pasangannya mengutarakan, mengetahui adanya ritual budaya di Parangkusumo ini dari media cetak sehingga menyempatkan diri untuk menonton ritual pembakaran Ogoh-ogoh ini. "Berbagai isu bencana beberapa waktu lalu, tidak mempengaruhi kami lagi untuk berkunjung di pantai ini," katanya.

 
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.49 sec.
>> WebStats