|
RASULAN, Upacara Bersih Desa Wukirsari Imogiri Desa Wukirsari merupakan salah satu desa di Kecamatan Imogiri yang memiliki banyak peninggalan sejarah khususnya peninggalan bersejarah pada masa Islam seperti makam raja-raja Mataraman dan makam Giriloyo. Makam tersebut terletak di atas bukit dan oleh penduduk sering disebut dengan Gunung Girilaya. Diatas gunung tersebut terdapat sebuah makam lama yaitu makam panembahan Juminah yang hidup pada masa Pemerintahan Sultan Agung. Selain itu juga ada kuburan rakyat dan sebuah masjid lama. Menurut sejarahnya masjid Girilaya ini didirikan pada masa Hamengku Buwono I tahun 1788.
Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara Rasulan/bersih dusun adalah mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada Tuhan yang maha Esa. Mereka merasa bahwa sang pencipta telah memberikan hasil panen yang cukup melimpah pada para petani selama satu tahun. Di samping itu masyarakat dusun cengkehan juga berharap agar panen- panen yang akan datang jauh lebih baik dari tahun kemarin dan berharap agar dijauhkan dari godaan-godaan yang bisa menggagalkan panennya.
Upacara rasulan ini dilaksanakan sesudah bulan purnama, sedang harinya berubah-ubah. Pada prinsipnya dalam melaksanakan upacara itu mereka mengambil hari legi atau wage menurut kalender jawa. Adapun tempat upacara adalah di masjid Giriloyo, Imogiri.
Sebelum puncak acara dimulai, diadakan berbagai kegiatan antara lain slawatan, rodat dam maulut. Kegiatan kesenian ini selain menggunakan alat musik juga dilengkapi dengan penari, jumlah personil kira-kira 20-3 orang. Di dalam kesenian tersebut selain merupakan hiburan tetapi juga ada bagian-bagian yang dianggap sakral. Maulut dan rodat dianggap sebagai bagian yang sakral karena tembang yang dilantunkan berisi puji-pujian yang mengagungkan nama Allah dan kebesaran Nabi Muhammad Saw khususnya sejarah Nabi. Penari dalam kesenian ini dinamakan ledek. Tempat penampilan penari dibedakan, rodat dibangsal Majid, Maulut di serambi masjid. Kesenian itu tampil secara bergantian. Maulut ini merupakan kesenian yang dianggap suci, sedangkan slawat dianggap hiburan semata. Kadang-kadang dalam slawat diselipkan ajaran Pancasila. Pada pagi harinya diadakan kenduri dengan besekan sambil minum dawet. Ujub kenduri dipimpin oleh seorang rais yang pada pokoknya memohon kepada Tuhan agar segala permohonannya juga diadakan tahlilan. Setelah acara pokok selesai, maka warga setempat mendapat nasi kenduri dalam besek lengkap dengan lauk-pauknya. Sisa dari makanan pesta dibagikan kepada fakir miskin.
|