Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
29 Nov 2014
Obyek Wisata
Event Budaya
 
 
Jathilan

Pasar Seni Gabusan yang berlokasi di kilometer 9,7 Yogyakarta – Parangtritis, memang membanggakan, karena bangunannya yang khas, kemampuannya menampung pengrajin yang berjumlah sampai 600 orang, tidak ada duanya di kabupaten lain di seantero negeri.


Namun, dibalik kebanggaan itu, wajar, bila ada yang mengkhawatirkan, jangan-jangan Gabusan bernasib sama seperti LIK (Lingkungan Industri Kecil) yang dibangun di jaman Orde Baru. Kekhawatiran seperti itu tampaknya sudah sejak awal diantisipasi petinggi Bantul. Solusinya, Pasar Seni Gabusan, tidak semata-mata untuk menjaring wisatawan yang rekreasi ke pantai Parangtritis. Hitungan di atas kertas memang menggiurkan, separoh saja dari 2 juta pengunjung prangtritis per tahunnya mampir ke Gabusan, ramailah pasar seni bertaraf internasional itu.

Tampaknya, Pemkab Bantul tidak semata-mata memimpikan kunjungan pelancong saja. Masyarakat Bantul sendiri, sebagaimana berkali-kali ditekankan Bupati Bantul (waktu itu Drs HM Idham Samawi), haruslah memiliki rasa handarbeni pasar seni Gabusan ini.

Maka, diciptakanlah acara-acara rutin mingguan untuk meramaikan Gabusan. Seni tradisional yang cukup atraktif Jathilan atau kuda lumping. Pemunculan grup Gagak Rimang yang ditampilkan hari Minggu 12 Desember lalu, tampaknya di luar dugaan banyak orang. Gara-garanya, penunggang kuda lumping yang ‘ndadi’ atau kerasukan roh halus lebih dari dua orang.

Bagi fotografer maupun juru kamera, banyaknya pemain yang kerasukan menjadi liputan yang menarik. Namun, di luar dugaan, Fotografere Bantulbiz.com yang sedang sibuk mengambil foto, didekati seseorang, berpakaian hitam-hitam. Dengan tenang, lelaki muda, berumur sekitar 27 tahun itu memperingatkan, kamera supaya disimpan saja, daripada nanti rusak isinya. Lho kok begitu? Anak muda itu menjawab tenang: “Kali ini memang luar biasa. Roh halus yang masuk ke pemain itu dari kraton semua.” Tanpa pikir panjang lagi, kamera pun lantas masuk tas.

Memang, sebelum acara dimulai, mbah Sudiprawiro, mengaku berusia 89 tahun, tampak komat-kamit di dekat kuda lumping, sambil sekali-kali menaburkan kemenyan di bara arang, dan memunculkan asap putih agak tebal.
“Maksudnya apa mbah?” tanya Bantulbiz.com penasaran seusai upacara ritual. “Saya minta ijin para penunggu di sini agar pertunjukan dapat berlangusng lancar. Saya juga minta dibantu kalau-kalau ada orang berkemampuan (mampu mendatangkan makhluk halus-red) yang jahil dan ingin mengganggu pertunjukan jathilan ini.”***

• Last modified: 28 Jan 2005 17:23:30.
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.53 sec.
>> WebStats