|
Ritual tradisi Yayasan Hondodento Yogyakarta Ritual tradisi di Parangkusumo, Kretek yang banyak diikuti masyarakat selama 32 tahun terakhir adalah labuhan yang diselenggarakan Yayasan Hondodento Yogyakarta. Labuhan yang rutin dilakukan setiap tanggal 15 Sura itu, Selasa (14/2) mendapat sambutan dan menjadi sebuah acara yang jadi tontonan objek wisata oleh masyarakat luas. Sementara itu ritual malam tanggal 15 Sura sebelumnya di Parangkusumo, Parangtritis, oleh warga dari Klaten dan Surakarta juga cukup meriah.
Ketua Yayasan Hondodento Drs Sumarto mengatakan, yayasan ini telah berkembang di hampir seluruh daerah di Indonesia. Baik di Pulau Jawa maupun pulau di luar Jawa lainnya. “Selama sekitar 32 tahun sejak berdirinya Yayasan Hondodento, anggota kami terus berkembang. Secara rutin kami juga melakukan ritual labuhan meski sempat absen pada tahun 2005 saat bencana tsunami melanda Aceh,” katanya.
Labuhan ini merupakan ujub rasa syukur dan sekaligus gelar doa bersama dengan mempersembahkan berbagai ubarampe untuk dilabuh di Pantai Parangkusumo. Prosesi upacara dimulai dari pendapa Parangtritis. Seluruh peserta yang mengenakan busana Jawa beriringan menyusuri pantai Parangkusumo.
Barisan paling depan, para wanita pembawa sesaji yang dinaungi payung kebesaran, kemudian diikuti peserta lainnya. Di Parangkusumo seluruh peserta duduk bersila menghadap laut untuk mengikuti upacara yang dimulai dengan doa bersama. Setelah itu dilanjutkan pembacaan riwayat berdirinya Yayasan Hondodento dan tujuan dari labuhan bulan Sura itu. Permohonan oleh salah satu jurukunci Parangkusumo dipanjatkan sebagai uluk salam dengan penguasa laut kidul.
Usai penyebaran bunga oleh beberapa wanita dilanjutkan acara puncak berupa labuhan seluruh ubarampe. Ribuan pengunjung yang sejak pagi menunggu tanpa dikomando langsung berebutan ubarampe di tengah deburan ombak pantai.
Beberapa orang yang mengaku berasal dari Klaten, kepada KR mengatakan, barang-barang yang dilabuh dipercaya mereka mempunyai tuah tertentu. Karenanya dengan keyakinan mereka, lalu bersemangat memburu barang-barang tersebut tanpa menghiraukan basah air laut.
|