|
Persaingan dari daerah lain dan pengembangan desain dan model yang relatif belum sesuai dengan permintaan pasar sering menjadi kendala berkembangnya produk kerajinan apapun. Karenanya, perajin dituntut mampu mengolah inovasi desain guna menembus pasar domestik maupun internasional. Sarjimin, pemilik Perusahaan Sada Sari Handicraft cepat melakukan inovasi itu. Semula bahan baku kulit sebagai andalannya. Kini, produk berbahan baku pandan yang menjadi unggulannya, sementara kulit tetap dimanfaatkan sebagai pelengkap.
Dengan inovasi ini, Sada Sari handicraft terus berkembang dan mampu mempekerjakan 17 orang pekerja dengan 5 orang tenaga ahli. Produk-produk yang dihasilkan Sada Sari hampir semuanya menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan. Pandan diperoleh dari Lamongan, mendhong ditanam di Minggir Sleman dan diolah di Tasikmalaya baru dikirim ke daerah- daerah industri seperti di Manding, ares yaitu daur ulang pelepah pisang, bagor, dan enceng gondok ditenun di Gamplong Sleman.
Pemasaran produk Sada Sari langsung dipesan oleh pembeli dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bali dengan nilai order tiap bulannya rata-rata Rp 40 juta. Pada awalnya Sarjimin menggunakan modal sendiri, akan tetapi sesuai dengan cepatnya perkembangan usaha, modal diperoleh dari bank.
Selama ini industri kulit di Manding dan khususnya Sada Sari handicraft mendapat bantuan konsultasi dalam bidang manajemen dan pemasaran dari SMEDC (Small and Medium Enterprises Development Centre) dari UGM.
Sada Sari handicraft didirikan pada tahun 1990 oleh Sarjimin yang beralamatkan di Jl. Parangtritis Km 11,5 Manding Rt 08 Rw 05 Sabdodadi Bantul Yogyakarta, phone : (0274) 368451 dan fax : (0274) 368451 – 367677.
|