|
| Soepry Gallery - Kerajinan Batik Lukis
| | Kenal dengan batik, ketika masih duduk di bangku SMP. Dari orang tuanya tidak ada darah seni yang mengalir di jiwanya. Apa lagi batik. Tetapi setiap ada ekstra membatik di SMP Sang Timur Yogyakarta, karyanya dinilai oleh gurunya selalu menjadi yang terbaik. Heran juga dia. Ketika di SMA, dia mulai banyak bergaul dengan komunitas perajin batik di Tamansari Yogyakarta. Gayung pun mulai bersambut. Selepas SMA masuk ke ISI dengan Jurusan Kerajinan Kayu, dengan muatan lokalnya kerajinan tekstil. Dari sini pula kemampuannya mulai terasah secara maksimal. Dialah Supriyatno (42) yang beralamat di Krapyak Wetan 161 A RT 8 RW 55 Panggungharjo Sewon Bantul, 55188, telp. 0274 – 380181, fax. 0274 – 373507.
Tahun 1983 mulai berkarya dengan mendirikan Soepry Gallery sebagai nama usahanya. Pada awalnya bapak yang kini 3 putra ini membuat batik mengacu ke pakem / pathokan dalam membatik. Dengan produknya seperti taplak meja, sprei, sarung, kain pantai, jarit dan bahan untuk baju. “Awalnya saya memang membuat batik yang cenderung ke arah fungsional”, kata Supri. Bagi Supri kalau hanya berkarya seperti itu terus rasanya tidak ada kepuasan. Tahun 1995 mulai melebarkan sayap dengan membuat batik lukis. Tema – tema / motif yang diangkat sebagian besar yaitu binatang. Kain yang digunakannya adalah berkolin, sutra, primisima dan rayon, dengan ukuran sekitar 75 X 95 cm.
Alumni ISI Yogyakarta ini sangat piawai dalam memainkan warna di atas kain batiknya. Warna-warnanya sangat pas dengan motif yang dilukis. Bak sebuah lukisan karya suami Emiyati ini cenderung realis. Bila sudah dipigura dan ditempelkan di dinding ruang tamu sangat enak untuk dinikmati. Dalam berkarya dia dibantu seorang anaknya, Damar yang sedang sekolah di SMSR dan 2 tenaga kerja yang semuanya wanita. Kapasitas produksinya dalam 3 hari bisa membuat 30 karya, jadi kalau sebulan bisa memproduksi 300 karya batik lukis. Rata-rata harga batik lukisnya adalah Rp 25.000.
Pasaran yang sampai saat ini masih ramai menurutnya adalah Bali. Dari Bali ini sebetulnya pasarannya juga asing. Ada pengalaman yang mengherankan selama menggeluti kerajinan batik. Yaitu sudah sering melakukan transaksi lewat internet dengan buyers Belanda, tetapi belum pernah yang namanya jumpa darat. Bagi peserta Pekan Raya Jakarta (PRJ) sudah sangat sering seragamnya mengambil ditempat Supri. Karena dia juga membatik dengan media enceng gondok, dikatakan dengan jujur oleh Supri justru hal itu saling mengisi. Omzet per bulan usahanya yaitu Rp 10 juta.
|