|
| Pring Sewu - Aneka kerajinan bambu
| | Di mana ada Supardiyono di dekatnya pasti ada bambu. Bisa di istilahkan bambu merupakan istri kedua bagi pendiri sekaligus pemilik Pring Sewu. Karena tanpa pohon jenis rumpun ini bapak berputra 1 ini tidak bisa menghidupi keluarganya. Supardiyono bergelut dengan bambu sejak usianya masih 6 tahun. Di usia yang masih sangat muda itu beliau sudah bisa menganyam bambu dan dijadikan sebagai tampah. Tetapi dengan bertambahnya usia, kekreatifannya juga mulai berkembang dan diterapkan dengan membuat aneka kerajinan bambu. Dan mencoba menawarkan hasil kerajinannnya ke toko-toko yang menjual barang kerajinan.
 |
| Supardiyono | |  | | Proses pembuatan |
|
Ternyata hasil kerajinnannya banyak yang suka dan laris terjual. Mulai tahun 1986 orderannya mulai meningkat. Pada waktu itu Supardiyono pertama kalinya menerima orderan dari luar negeri yaitu dari negara Perancis dan Kanada tetapi dia belum mempunyai nama perusahaan. Jadi bapak kelahiran Bantul ini menjual kerajinan tanpa label maupun nama perusahaan. Tahun 1995 Supardiyono menerima pesanan yang cukup banyak. Pada waktu itu untuk menyelesaikan pesanannya dia menghabiskan 1000 potong bambu. Saat itulah dia mempunyai inisiatif untuk memberi nama perusahaan dengan nama Pring Sewu. Akhirnya sampai saat ini perusahaannya dikenal dengan nama Pring Sewu.
Produk-produk dari perusahaan kerajinan bambu itu antara lain piring, mangkok, place mate, tempat buah, tempat sampah, tempat perhiasan, tudung saji, dan masih banyak yang lainnya. Harga sekitar Rp 5.000-Rp 250.000 / biji tergantung dengan jenis, bahan, model dan ukuran. Di show room sekaligus sebagai tempat produksinya yang beralamat di Karangasem Rt 03 / Rw 15 Muntuk, Dlingo, Bantul telp. 082 274 9104 ini terdapat kurang lebih 200 model barang kerajinan. Semua kerajinan bahan baku utamanya bambu dan bahan pelengkap menggunakan agel, rotan, pandan dan lain-lain. Jenis bambu yang sering digunakan adalah bambu petung, wulung, apus, ampel, dan cendani. “ Bambu tersebut didapatkan di daerah sekitar, tetapi apabila kebutuhannya banyak kami biasanya mencari sampai ke Daerah Kulon Progo, Muntilan, dan Purworejo”, ujar Supardiyono.
Dengan dibantu 30 pegawainya, perusahaan kerajinan bambu itu bisa menghasilkan sekitar 3000 biji tiap bulannya. Dari modal awalnya yang berjumlah sekitar Rp 5 juta sekarang bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah tiap bulannya. Berkat seringnya ikut pameran antara lain di Yogyakarta, Bali, dan Jakarta, produknya sudah sampai ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Tetapi yang paling rutin memesan dari daerah Yogyakarta, Bali, dan Jakarta. Sedangkan untuk luar negeri produknya sudah sampai ke Inggris, Perancis, Kanada, Amerika, Australia, Jepang, dan Arab. Sungguh suatu prestisius, hanya dengan bambu ternyata juga bisa merubah status sosial seseorang. Dan itu bisa dirasakan sebagian besar penduduk Karangasem.
|