|
| Giri Sari - Kerajinan Batik Tulis dan Cetak
| | Siapa yang menyangka kalau dari selembar kain mori seharga Rp 5.000 bisa menghasilkan minimal Rp 4 juta perbulannya. Hal ini yang terjadi pada Slamet (59) sebagai pendiri sekaligus pemilik Giri Sari. Tetapi hal itu tidak didapat dengan mudah, berbagai cobaan dialami oleh bapak yang sudah mempunyai 2 anak ini. Tetapi berkat keuletan, kegigihan dan pantang putus asa ini akhirnya kesuksesan dapat dicapainya.
Sejak kecil Slamet memang sudah bisa membatik. Keahlian dalam memainkan canting untuk membatik didapat dari orang tuannya, yang juga seorang perajin batik tulis tradisional. Sebelum tahun 1985 Slamet membatik hanya untuk menyalurkan hobinya. Tetapi karena pada waktu itu mencari pekerjaan sangat sulit apalagi pendidikan terakhirnya hanya SMP, maka diputuskan untuk menekuni dunia batik. Dia sangat menyadari hanya membatiklah keahliannya yang paling menonjol. Mulai saat itu bapak kelahiran tahun 1945 ini mulai serius menekuni seni batik.Ternyata dari tahun ketahun batiknya laku keras dan banyak menerima order pesanan. Tetapi ada kendala waktu itu Slamet belum mempunyai nama pengenal untuk batiknya dan banyak pemesan bingung mencari rumahnya karena belum ada papan namanya. Kemudian dia teringat letak rumah sekaligus tempat produksinya terdapat di daerah pegunungan. Mulai tahun 1996 Slamet menggunakan Giri Sari untuk nama home industrinya. Giri artinya gunung dan Sari berarti inti.
Home industri batik yang beralamat di Pajimatan Rt 05 Rw 16 Girirejo, Imogiri, Bantul , telp. 0817274629 ini memproduksi berbagai macam kerajinan batik baik tulis maupun cetak. Produknya antara lain : kain, selendang dan taplak dengan harga cukup bervariasi berkisar antara Rp 15.000 – Rp 750.000 tergantung dengan teknik membuatnya, jenis, model, ukuran dan kain yang digunakan. Bahan kain mori yang digunakan terdiri tiga macam, yang tergolong kualitas bagus menggunakan kain primissima, kain prima tergolong kualitas sedang, dan yang kualitas dibawah sedang menggunakan kain prima biru. Bahan baku berupa kain mori maupun alat-alat pendukung seperti canting, malam, dan pewarna didapatkan di koperasi batik yang terdapat di daerah Yogyakarta.
Dengan bantuan istri Slamet yang bernama Sutiyah dan beberapa pegawainya, Giri Sari bisa menghasilkan 100 batik tulis dan 500 batik cetak tiap bulannya. Aktifnya Slamet dalam mengikuti pameran baik di daerah Bantul maupun luar kota ternyata membuahkan hasil. Ini terbukti makin banyaknya pesanan dari dalam negeri maupun luar negeri. Pesanan wilayah dalam negeri paling banyak dari Yogyakarta, Bali, Jakarta, Blitar dan Surabaya. Sedangkan dari luar negeri antara lain Singapura, Kanada, Amerika, Jepang dan Swiss. “Kalau hanya saya saja yang melakukan ini tanpa dibantu istri dan 20 tenaga kerja saya, mana mungkin hal ini bisa dicapai”, ujar Slamet merendah.
|