|
| Batik Ny. Sri Sulastri - Kerajinan batik tulis dan cetak
| | Kain mori, canting dan malam adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan Sri Sulastri. Dengan keahliannya memainkan canting yang telah diisi malam, dia bisa merubah kain yang dulunya putih polos menjadi kain bermotif. Dengan sedikit polesan maupun pewarnaan maka jadilah kain mori tersebut menjadi batik yang mempunyai nilai seni maupun materi yang tinggi.
 |
| Sri Sulastri |
|
 |
Proses pembuatan batik tulis |
|
Sejak dulu Sri Sulastri memang hobi membatik. Hal ini mungkin karena pengaruh lingkungan keluarga terutama ayahnya yang bernama H. Kasan berprofesi sebagai perajin batik tulis. Dari pengalaman ayahnya inilah Sri Sulastri banyak menimba ilmu dalam bidang dunia perbatikan. Setelah dirasa sudah mampu baik dari segi modal maupun mental, ibu dengan dua anak ini berkeinginan mendirikan home industri batik sendiri. Pada tahun 1999 beliau mendirikan home industri batik yang dinamakan Batik Ny. Sri Sulastri.
 |
Proses pembuatan batik cetak | |
 |
| Proses pengeringan |
|
Produk Ny. Sri Sulastri antara lain selendang, sarung, kain sarimbit dan bahan pakaian. Semua produknya berbasis batik tulis tradisional dan cetak. Harganya cukup bervariasi berkisar antara Rp 20.000-Rp 500.000 tergantung dengan jenis kain, ukuran, model, dan sistem pengerjaan batiknya. “Untuk harga batik tulis memang lebih mahal dibandingkan dengan batik cetak karena waktu pengerjaannya lebih lama. Untuk membuat 1 batik tulis dengan motif tretesan bisa mencapai 2 bulan”, ujar Sri Sulastri. Menurut ibu tamatan SLTA, bahan baku berupa kain mori maupun bahan-bahan pendukungnya didapatkan dari koperasi batik.
Dengan dibantu 6 orang pegawainya, home industri batik yang beralamatkan di Ngeblak, Wijirejo, Pandak, Bantul dengan nomor telepon 08121580453 ini bisa menghasilkan 1000 potong batik sistem cetak dan 20 potong batik tulis tradisional tiap bulannya. Omset perbulannya bisa mencapai Rp 30 juta tiap bulannya. Batik hasil Ny. Sri Sulastri kebanyakan diambil oleh penjual di berbagai daerah antara lain di Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Jakarta. Kemudian oleh mereka batik Ny. Sri Sulastri dijual lagi ke daerahnya masing-masing. “Turis asal Jepang sering kesini, mereka lebih menyukai batik tulis tradisional daripada batik dengan sistem cetak. Biasanya turis-turis tersebut membeli beberapa motif batik untuk sekedar oleh-oleh di negaranya”, tutur Sri Sulastri kepada Bantulbiz.com dirumahnya.
|