Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
11 Oct 2008
Sentra Kerajinan
Perajin
Katalog Produk
 
 
Sanggar Warnowaskito - Topeng Klasik
Katalog Produk

Sanggar Warnowaskito didirikan oleh Warnowaskito pada tahun 1920. Melihat angka tahunnya merupakan salah satu sanggar tertua di Bantul. Sejak awal Mbah Warno (panggilan akrabnya) sangat tekun dan intens membuat topeng-topeng yang berciri klasik, artinya sangat memegang pakem / aturan dalam membuat topeng. Bahkan cenderung berbisnis dan sasarannya adalah turis asing. Pernah mencapai puncak kesuksesan sekitar tahun 1930. Warnowaskito konon katanya pernah menjadi pegawai di Museum Sono Budoyo Yogyakarta.

Setelah Mbah Warno meninggal tahun 1992, kini sanggar yang beralamat di Jl. Bantul Km.8, Diro Pendowoharjo Sewon Bantul ini diteruskan oleh Supana. Supana adalah cucunya Mbah Warno yang sejak tahun 1970 telah ikut bersamanya. Karena terbiasa di lingkungan perajin topeng dan selalu melihat kakeknya berkarya lambat laun Supana yang kini sudah berputra 2 ini akhirnya juga tertarik dan bisa berkarya. Sejak SD suami Supriyati ini sudah mahir membuat topeng klasik. Topeng-topeng yang dibuat bercorak panji dan klono. Hingga sekarang sudah ada seratus lebih model topeng yang dibuatnya. Dari model itu masing-masing topeng mempunyai karakter sendiri-sendiri.

Kayu yang paling baik digunakan untuk membuat topeng menurut seniman lulusan SMIK ini adalah kayu jaranan yang diambil dari Purworejo. Kayu ini seratnya halus, tidak mudah dimakan bubuk, tidak mudah pecah , dan mudah dibentuk. Topeng klasik selalu membutuhkan tingkat detail yang tinggi, sehingga satu bulan kira-kira hanya bisa membuat 10 topeng. Proses pembuatannya, dari kayu glondongan kemudian digergaji sesuai ukuran, dibelah dengan parang, diraut dengan tatah / pisau, menentukan karakter, dilubangi,(mata, hidung,mulut), dikeringkan sekitar 1 minggu, diraut lagi, diukir detail, diamplas sampai halus dan terakhir disungging atau diwarna sesuai karakter. Pewarnaan sekarang menggunakan cat akrilic dicampur dengan lem putih dan juga prodo. Namun bila ada yang kepingin warna alam, Supana juga masih melayani.

Harga topeng produknya sangat bervareasi, menurut tingkat detail dan teknik pewarnaannya. Harga yang paling rendah adalah Rp 250.000 yang sedang Rp 800.000 dan yang termahal adalah Rp 1.250.000. Sejak pasca bom Bali kini cenderung berkurang jumlah turis yang berkunjung di sanggarnya. Sekarang pembelinya sebagian besar adalah penari, kolektor dan pengamat seni / tari. Penari kawakan Didik Nini Thowok adalah salah satu langganannya. Untuk membawakan tari baru ciptaannya, dia selalu mengambil topeng di tempat Supana. Di masa seperti sekarang ini Supana lebih cenderung sebagai seorang pelestari topeng dari pada bisnisnya. “Lha kalau saya ikut-ikutan membuat topeng yang mengacu ke pasar, lantas siapa yang mau melestarikan topeng-topeng seperti ini?” paparnya sambil menunjuk koleksi-koleksinya.

• Last modified: 28 Jan 2005 17:23:34.
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.63 sec.
>> WebStats