Language :
.:: Bahasa Indonesia .::  English  
About Us Contact Us Guestbook
Investment Crafts Tourism BizDirectory BizNews
27 Nov 2014
Sentra Kerajinan
Perajin
Katalog Produk
 
 
Mataram Super Shuttlecock - Kerajinan Shutlecock

Shuttlecock Mataram Super mulai dirintis Sutomo warga Manggung, Kowen II, Timbulharjo, Sewon, Bantul sejak tahun 1984. Kini usaha tersebut diteruskan Nurhayati dan suaminya Aris Budiarto. Usaha yang dikelola generasi kedua Sutomo, konsisten menjaga kualitas produk dan hubungan baik dengan pelanggannya agar tetap eksis. Untuk tetap menjada kualitas produk, bahan baku seperti bulu ayam, dof, pita dan pembungkus dof serta label yang dibeli sudah merupakan bahan siap dirakit.


Shuttlecock yang berlabel Mataram Super ini mempunyai 5 jenis produk dengan tiga tingkatan kualitas, yaitu kualitas I, II dan III. Kualitas I, dan II terdiri dari satu jenis produk, sedangkan kualitas III terdiri dari 3 jenis. Unsur yang membedakan kualitas masing-masing produk adalah kualitas bulu dan jenis dof yang digunakan. Khusus untuk kualitas III, ada 3 jenis produk yang dihasilkan dari hasil sortiran bahan baku kualitas 1 yang tidak memenuhi kriteria. Dengan demikian bahan baku yang telah dibeli dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Shuttle cock untuk kualitas III ini biasa disebut BS. Konsumen shuttlecock kualitas III umumnya para pelatih di klub bulutangkis untuk program latihan.


Rata-rata produksi tiap bulannya mencapai 2500 slop dengan satu slop berisi 12 biji. Satu slop shuttlecock kualitas I dijual Rp. 37.500, kualitas II Rp. 30.000, kualitas III Rp. 21.000, 18.000 dan 14.000. Dari penjualan tersebut keuntungan yang diperoleh antara Rp. 4000 10.500 per slop. Produk shuttlecock yang laris terjual adalah kualitas III, karena banyak dibutuhkan pada berbagai event di luar pertandingan resmi.

Bahan baku shuttlecock diambil dari bulu ayam petelur dan ayam potong yang didatangkan dari Muntilan dan Magelang. Rata-rata satu bulan 160.000 bulu ayam didatangkan dengan berbagai kualitas. Untuk membuat satu shuttlecock dibutuhkan 16 bulu ayam. Nurhayati membeli bulu-bulu tersebut dengan harga Rp. 10 Rp. 70 per biji. Bahan baku lain yang dibutuhkan yaitu lem, pita label, benang, doff, dan bungkus/slop atau kemasan. Untuk bahan-bahan lainnya tersebut seluruhnyan didatangkan dari Solo. Kedepannya, Aris berharap semua bahan baku tersebut bisa diproduksi di Bantul sebagai usaha pemberdayaan masyarakat.

Shuttlecock buatan warga Bantul ini dipasarkan ke wilayah Yogyakarta, Purwokerto, Lampung, Lombok dan Sulawesi. Permintaan biasa akan meningkat pada bulan Agustus hingga November. Untuk memenuhi pesanan tersebut, Nurhayati mempekerjakan 10 orang karyawan yang diupah secara borongan. Aris Budiarti saat ditemui di rumahnya Rabu (01/09) mengatakan; berapapun banyaknya pesanan yang ada, selalu mampudipenuhi, walaupun hanya memiliki satu alat mekanik yakni bor dof dan satu setengah mekanik yakni alat penggunting bulu.

Merk Mataram Super ini sudah dipatenkan dengan nomor paten DP. 555326 untuk mengantisipasi banyaknya tiruan dari para pesaing. Usaha ini juga mempunyai beberapa ijin usaha seperti SIUPP dan HO. (Nura/Fernandez)

Last modified: 02 Sep 2010 14:23:58.
   

www.bantulbiz.com
Copyright © KPDE Pemkab Bantul - 2004
All Rights Reserved.
Page loaded in 0.90 sec.
>> WebStats