|
| Ibu Yati - Kerajinan aksesoris tari
| | Siapa yang menyangka kalau dari uang Rp 10.000 bisa menghasilkan sekitar Rp 25 juta tiap bulannya. Hal inilah yang terjadi pada Harmaji dan istrinya yang bernama Yati sebagai pendiri sekaligus pemilik perusahaan Ibu yati. Awal mulanya sekitar tahun 1982 Harmaji pinjam uang Rp 10.000 kepada temannya. Kemudian uang itu dibelanjakan kuningan, aluminium, dan sedikit emas. Dari pengalamannya yang dulu pernah bekerja di perusahaan perhiasan imitasi, iseng-iseng bapak kelahiran bantul tersebut membuat pending (sabuk) dari kuningan dan disepuh emas. Kemudian beliau menyuruh istrinya untk menjual hasil kerajinannya di toko-toko yang menjual aksesoris tari. Karena keuletan serta kegigihan suami istri tersebut hasil kerajinannya mulai dikenal di pasaran. Mulai saat itulah produknya dikenal dengan nama Ibu Yati dan hal tersebut masih berlaku hingga sekarang.
 |
| Harmaji | |  | | proses pembuatan |
|
Produknya antara lain: kalung, gelang, pending (sabuk), mahkota, klab bahu (gelang bahu), hiasan kepala dan lain lain dengan harga berkisar Rp 3.000 – 15.000 tiap bijinya. Hampir semua produk Ibu Yati menggunakan bahan kuningan dan tembaga yang kemudian disepuh dengan perak ataupun emas tergantung dengan modelnya. Untuk masalah bahan baku tidak menemui banyak kendala karena banyak toko di sekitarnya yang menyediakan bahan-bahan tersebut.
Harmaji serta istri dan anaknya dengan dibantu dengan 10 pegawainya bisa menghasilkan 7 kodi (1 kodi berisi 20 biji) aksesoris tari tiap hari. Perusahaan aksesoris yang beralamatkan di dusun Mutihan No.110 Rt:03 Rw:08, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, telp. (0274) 7483662 itu juga menerima pesanan yang bentuk pesanannya bisa dari pemesan sendiri. Waktu menyelesaikan pesanan tergantung tingkat kesulitan dan jumlah pesanan.
Produknya langsung diambil penjual aksesoris tari dalam bentuk kodian. Mereka biasanya berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Bali, Lombok, Sumatra, Kalimantan, Irian jaya dan ada juga yang berasal dari Malaysia. Mereka biasanya memborong hasil kerajinan Ibu Yati. Apalagi antara bulan Juli dan Agustus perusahaan aksesoris tari tersebut sampai kehabisan stok.
|