|
| WGY - Kerajinan wajan, ketel, panci
| | Banyak dari kita tidak menyadari ternyata barang-barang bekas di sekitar kita bisa dimanfaatkan menjadi barang yang baru. Itu yang dimanfaatkan perusahaan “WGY” untuk membuat produk-produknya. Perusahaan yang dirintis dan didirikan oleh Alm. Wagiyo memanfaatkan barang rongsokan yang terbuat dari aluminium untuk membuat wajan, ketel dan panci.
Awalnya sekitar tahun 1982 sewaktu Wagiyo masih hidup, dengan berbekal uang Rp 400.000 membeli barang rongsokan dari bahan aluminium. Kemudian barang rongsokan tersebut dilebur hingga menjadi seperti jenang dan dicetak menjadi wajan. Setelah produknya jadi, wajan tersebut ditawarkan ke pasar-pasar dan rumah makan sekitar Yogyakarta. Lama kelamaan hasil produk wagiyo mulai dikenal dipasaran. Mulai saat itulah hasil kerajinannya dikenal dengan nama WGY alias Wagiyo. “ Sejak suami saya meninggal, saya dan anak-anak yang meneruskan usaha ini.” ujar ibu Mardihandoyo.
Produk yang dihasilkan perusahaan WGY adalah wajan, ketel, panci. Semua produknya terbuat dari aluminium cor-coran.Harganya berkisar antara Rp10.000 – Rp 450.000. Menurut istri Alm. Wagiyo tersebut untuk jenis wajan, ketel dan panci cor-coran harganya memang relatif lebih mahal dibandingkan dengan yang cetakan biasa. Dikarenakan bahan yang diperlukan lebih banyak. Perbandingannya, bahan pembuat 1 wajan cor-coran bisa untuk membuat 3 wajan biasa.
Bahan baku yang digunakan adalah barang rongsokan dari aluminium dan aluminium batangan. Untuk barang rongsokan dipasok dari daerah Boyolali sedangkan untuk jenis aluminium batangan dipasok dari daerah Nitikan. Tiap batang aluminium beratnya mencapai 6-7 kg dengan harga Rp 12.000 / kg.
Dengan dibantu anak dan 18 pegawai tetapnya perusahaan yang beralamatkan di dusun Mutihan Rt:02 Rw:17 Wirokerten Banguntapan Bantul, Telp. 0274-379496 bisa menghasilkan sekitar1000 buah tiap bulannya.Kalau di nominalkan sekitar Rp 55 juta per bulan. Hasil produk dari perusahaan WGY biasanya langsung diambil oleh para tengkulak yang berasal dari Jakarta, Semarang, Kalimantan dan Irian Jaya. Kemudian oleh para tengkulak tersebut dijual lagi di daerahnya masing-masing.
|